Cerita 2 Buah Kapal (1)

Cerita dari seorang Teman,

Picton Castle Under Full SailAlkisah, pada jaman dahulu  ada 2 buah kapal yang akan berangkat berlayar dengan tujuan kurang lebih sama, yaitu menemukan sebuah pulau yang konon memiliki sumberdaya alam yang berlimpah, dan akan membuat mereka sejahtera di masa depan.

Kapal yang pertama, dipimpin oleh seorang nahkoda dan seorang wakilnya. Nahkoda tersebut memiliki teknik berlayar yang tinggi, dan terkenal pemberani dalam menghadapi bahaya. Nahkoda ini memulai pelayarannya dengan beberapa awak,  sebuah peta yang tidak jelas, namun pulau tujuannya masih dapat terbaca, dan perbekalan yang cukup untuk para awak kapal tersebut. Di awal perjalanannya, nahkoda langsung mengemudikan kapalnya dengan kencang, para awak dengan impian yang sama dengan nahkoda, mampu  mengikuti perintah dari nahkoda tersebut. Sedangkan wakilnya, berusaha untuk belajar dari sang nahkoda, dengan harapan di tengah perjalanan dapat menggantikan sang nahkoda apabila kelelahan.

Di tengah perjalanan, nahkoda beberapa kali melenceng dari arah tujuannya, akibat peta yang dibawanya hanya menggambarkan pulau tujuan, tanpa adanya gambaran pulau-pulau di sekitarnya. Namun dengan teknik berlayarnya yang tinggi, dan keberaniannya, kapal-pun dapat kembali ke arah yang benar. Sang nahkoda-pun terus mengendalikan kapalnya tersebut dengan kencang.

Dalam perjalanannya, hambatan demi hambatan mulai berdatangan, dari ombak besar , badai, maupun datangnya para perompak.  Beberapa kebocoran pada kapalpun tidak dapat dihindari. Para awak bekerja keras untuk menambal kebocoran pada kapal, namun dengan perbekalan yang mulai menipis, kerja mereka-pun terlihat tidak optimal seperti di awal pelayaran.

Sesekali, ketika tingkat kebocoran mulai tak terkendali, sang nahkoda membawa kapalnya berhenti ke pulau-pulau  yang dilewatinya untuk memperbaiki kerusakan pada kapalnya tersebut . Di perhentian tersebut, sang nahkoda dan wakilnya membeli beberapa suku cadang baru, yang katanya dapat mempercepat kapal dalam berlayar. Beberapa awak kapal baru juga direkrut, untuk memberikan tenaga tambahan saat pelayaran nanti. Perbekalan juga dibeli, namun dengan optimisme bahwa pulau tujuan sudah dekat, dan perbekalan yang banyak akan memperlambat jalannya kapal, perbekalan yang dibeli hanya sekedarnya.

badaiKetika pelayaran dimulai kembali, hambatan-hambatan ternyata kembali muncul. Awak-awak baru yang belum cukup beradaptasi, sedikit kebingungan menghadapi hambatan-hambatan yang muncul, dan terkadang mengganggu kerja awak kapal lama yang mulai kelelahan.

Kepanikan pun mulai muncul, sang wakil yang ikut merasa panik,  berusaha membantu sang nahkoda mengendalikan kapal, dan mulai ikut memberi perintah para awak kapal tersebut. Namun kurangnya pengalaman sang wakil, kadang malah membuat awak-awak kapalnya bingung dengan perintah-perintah yang diberikan. Kelelahan dan kebingungan, membuat mereka kurang bersemangat. Melihat hal tersebut sang wakil, dengan mengatasnamakan  keselamatan kapal menjatuhkan beberapa awak kapal yang mulai tidak bisa bekerja akibat kelelahan, ke lautan luas. Awak kapal lainnya mulai cemas melihat hal tersebut, mereka ketakutan hal serupa akan terjadi pada diri mereka. Mereka bingung, mencoba tetap mempertahankan impian awal mereka, namun hambatan-hambatan yang datang membuat mereka melemah kembali. Ketika ingin bercerita keluh kesah mereka ke sang nahkoda, sang nahkoda terlihat sibuk mengendalikan kemudi untuk mempertahankan kapal-nya.

Dan kemudian, perbekalan semakin menipis. Beberapa awak kapal lama jatuh sakit dan tewas di tengah perjalanan. Kebocoran demi kebocoran pada kapal -pun semakin tak terkendali, para awak tetap mencoba untuk menambal kebocoran-kebocoran yang ada. Namun, tanpa melihat keadaan kapal dan awak kapalnya, sang nahkoda dan wakilnya tetap mengendalikan kapalnya dengan kencang. Beberapa pulau yang nampak,  dilewatinya begitu saja, sang nahkoda dan wakilnya tetap pada optimisme mereka  bahwa pulau tujuan mereka sudah sangat dekat, sehingga perhentian akan membuat waktu hilang terbuang.

Berbeda dengan sang nahkoda dan wakilnya, para awak kapal lama yang tadinya memiliki impian serupa mulai menghapus  impian-impian mereka akan sebuah pulau yang dapat membuat mereka sejahtera di masa depan. Kehilangan impian, membuat mereka bekerja tanpa semangat mengikuti perintah sang nahkoda dan wakilnya. Hanya awak-awak baru yang masih bersemangat untuk membantu sang nahkoda dalam pelayarannya.  Sang nahkoda yang sesekali melihat keadaan  tersebut,  tetap memutuskan untuk membawa kapalnya berlari kencang, agar kapal dapat sampai ke tujuan sebelum karam.

Akankah sang nahkoda dengan teknik berlayarnya yang tinggi, dan keberaniannya yang luar biasa, dapat membawa kapal dan awak-awak kapalnya sampai di tujuan? Benarkah pulau impian yang dituju merupakan pulau yang dapat membuat seluruh awak kapalnya sejahtera, atau pulau tersebut hanya impian semu sang nahkoda?Dan bagaimana dengan keadaan kapal lainnya, yang memiliki tujuan yang sama dengan kapal pertama?

bersambung…

There are no comments, yet.

Why don’t you be the first? Come on, you know you want to!

Leave a Comment

Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes